Haruskah Menjadi Pekerja Genteng Untuk Bisa Merasakan ?
Noon haruskah menjadi untuk bisa merasakan ? Senin, 16 Agustus 2021 noon dikasih kesempatan untuk terjun ke lapangan Lengkong, Pejagoan, Kebumen untuk menjadi sekaligus merasakan sendiri aura tobong genteng yang merupakan salah satu sumber mata pencaharian sebagian orang dikebumen (tanda kutip daerah tertentu : misal untuk pejagoan, sokka, petanahan).
Okaydaa, langsunglah noon membantu jemur genteng yang sedang dilakukan oleh pak tohir. Genteng yang dijemur
adalah genteng yang sudah didiamkan selama kurang lebih satu pekan dalam rak bambu dipabrik. Hal itu
dilakukan agar genteng tidak pecah saat dijemur. Pun ketika sedang didiamkan selama
satu pekan dalam rak bambu, genteng bisa juga pecah karena tidak tahan dengan
angin yang berhembus. Oleh karena itu, biasanya kanan kiri pabrik diberi terpal,
untuk menghalau angin agar angin lebih slow berhembusnya.
Genteng diturunkan dan
dinaikkan gerobak untuk memudahkan pemindahan dari rak bambu ke tempat
penjemuran. Sisanya hanya tertinggal penampan dalam rak.
Kegiatan berikutnya, adalah merapihkan penampan yang tertinggal bekas genteng.
Penampan dijadikan sepasang lalu ditumpuk disetiap lorong sampai pada ketinggian
kurang lebih 120 sampai 150 cm dari lantai. Kemudian masing masing tumpukan
didekatkan kepada pushingan genteng, untuk dapat digunakan kembali. Hal ini
disebut menyiapkan tempat. Sebagai seorang pemula, memindahkannya sedikit demi
sedikit. Bagi yang sudah terbiasa, para pekerja mampu mengangkat satu tumpukan.
Berikut juga dengan kue (*istilah yang digunakan untuk tanah liat yang telah diolah dalam dunia pergentengen) yang sudah tersedia dilokasi pabrik. Kue tersebut sebelumnya
berasal dari tanah liat yang diambil menggunakan bego, kemudian diolah melalui
molen dan dipotong potong sesuai ukuran standar untuk genteng yang akan dibuat (sebut saja genteng morando, misal) yang
selanjutnya akan diantarkan menggunakan truk dam kelokasi pabrik. Baru kemudian
kue tersebut didiamkan selama kurang lebih satu bulan dilokasi pabrik, dengan terpal
sebagai penutup diatasnya. Tujuannya adalah untuk mengurangi kadar air yang
terkandung dalam kue tersebut sebelum diolah. Satu potong memiliki berat kurang
lebih 3kg. Sedang satu paket atau satu kotak kue terdapat tiga potongan yang berarti
kurang lebih beratnya 9kg. Untuk pemula, memindahkannya turut spotong-spotong.
Hal ini juga disebut menyiapkan tempat.
Hari kedua Rabu, 18 Agustus 2021
Siang hari terasa teduh berada di pabrik genteng, karena
ruangan yang tinggi, terbuka, tiang bangunan yang ramah lingkungan yaitu saka bata,
ubin tanah dan rak bambu yang membentuk sebuah lorong atau kolom dalam pabrik
serta penutup atau aling aling ditepian pabrik.
Kali ini noon ambil bagian Kerja pabrik loh. yang dilakukan ialah gebug
kue menggunakan besi atau alu, kemudian dimasukkan kedalam pushingan untuk
dipush membentuk genteng. Setelah dipush, genteng dioper ke rak bambu samping
pushingan untuk dilakukan pemotongan atau perapihan setiap tepi genteng
menggunakan kawat dan plastik berlumur minyak. Kegiatan ini dinamakan motong. Sebetulnya ada alat yang telah disiapkan khusus untuk merapihkan genteng ini, namun karena genteng kali ini berukuran lebih besar dari alatnya jadi tidak digunakan. Genteng yang sudah rapih dipindahkan ke rak rak bambu untuk didiamkan,
dianginkan, dan dikeringkan secara alami. Setiap rak terdapat 8 susun. Kegiatan ini dari mulai memasukkan genteng sampai pada rak untuk dianginkan merupakan kegiatan inti dari pabrik genteng. Kegiatan ini dilakukan dengan posisi
berdiri, sesekali istirahat untuk minum kopi atau teh yang telah dibuat.
Untuk
memotong genteng, pemolesan minyak dilakukan dengan cara ditekan, agar bekas
potongan lebih padat karena tekanan. Secara keseluruhan, kegiatan memang terlihat
monoton, namun untuk mengisi kehampaan waktu saat bekerja, pekerja senantiasa
gojek atau bercanda antar pekerja lain, namun tidak mengabaikan apa yang sedang
dikerjakan. Modal cakap ini sudah terdengar seperti radio. Hal ini membuat pekerja tidak mengantuk dan
semangat bekerja, karena pekerjaan dapat dilalui dengan santai dan hati yang bahagia. Dampak panjang kegiatan ini mampu membuat awet muda, selain setiap hari
bergerak setiap hari pula para pekerja tertawa atau bahagia dengan gojek atau
candanya. Kostum yang diggunakan sangat casual. Menariknya untuk pekerja wanita
mereka identik memakai jarit atau kain yang disampirkan dibagian depan untuk
menangkis kotor dari genteng. Dan memakai kain yang menutupi kepalanya. Hal ini
membuat pekerja gentheng lebih identik.
Untuk bagian pembakaran, genteng yang dirasa siap untuk dibakar akan diangkut menggunakan mobil bak. Setiap tobong memiliki kapasitas yang berbeda mulai dari 5000 pcs (tobong kecil) sampai 7000 pcs (tobong besar) berisi genteng dan bata. Bata mendapatkan posisi dibawah atau dasar sedang genteng berada diatasnya. Kemudian bata digunakan lagi dipintu tobong sebagai penutup.
Setelah noon amati ada lima fase dalam proses pembakaran ini.
Pertama, munggah. Munggah adalah fase memasukkan semua genteng dan bata yang sudah siap dibakar kedalam tobong. Fase ini membutuhkan waktu sehari. Dilakukan oleh kurang lebih 10 tenaga.
Kedua garang. Disebut garang, yaitu proses pembakaran memakai api kecil (menggarang) selama tiga hari berturut, agar genteng dan bata bisa mendapatkan panas yang merata dan bertahap.
Puncaknya adalah obong. Obong adalah pembakaran dengan api maksimal selama satu hari satu malam. dalam proses garang sampai obong dihandle atau dijaga oleh 2 tenaga untuk memastikan api tetap menyala dan berkobar secara istiqomah alias konsisten.
Menuju tahap akhir ada fase ngademke atau pendinginan. Tobong didiamkan selama satu hari untuk dapat dilakukan proses pembongkaran. Hal ini bermaksud untuk menurunkan hawa panas didalam tobong.
Finish noon, akhirnya bongkar tobong. Bongkar tobong dilakukan mulai pukul 06.00 pagi sampai dhuhur. Sama juga dengan fase pertama munggah. ini dilakukan oleh kurang lebih 10 tenaga juga. Style yang digunakan ketika bongkar yang terekam dalam memory noon adalah style tangan gubet. Jadi tangan para pekerjanya ini di gubet (atau dililit) kain bekas setebal mungkin tapi masih efektif untuk bergerak. Hal ini dilakukan untuk melindungi tangan dari permukaan kasar batu bata yang bisa mengagikabatkan kapalan pada tangan ataupun luka.
Berat pekerjaan ini membutuhkan fisik yang kuat. Keringat tentu berkucuran ketika didalam tobong terlebih apabila berada di deket dindingnya tobong . karena hawa panas nya sungguh masih terasa puanas.
Pada akhirnya noon akan tau jika sudah mencoba atau merasakan. Meski eksperimen setiap orang nantinya akan berbeda sesuai dengan pengalaman hidup dan apa yang telah berakar dalam pola pikirnya. Namun agar tetap disayang Tuhan noon hanya akan mencoba dan merasakan apa yang diperbolehkan Tuhan sesuai pedoman.
Namun jika memiliki kepekaan yang baik, tajam, jeli dan rasa emphaty yang tinggi ada peluang untuk seseorang tidak menutup kemungkinan bisa merasakan tanpa harus menjadi.
menerima saran dan masukan yang dapat membangun teks bacaan diatas dan juga kedepan nya
BalasHapus